dionly1

Just another WordPress.com site

STOP KONSUMSI SIRIP HIU

Indonesia memiliki jumlah hiu terbesar di dunia, namun ironisnya populasi hiu terus menurun. Di tahun 1990-an, perburuan sirip hiu lazim dilakukan terutama di wilayah timur Indonesia baik oleh nelayanlokal ataupun yang berasal dari luar Indonesia.

Laju kepunahan ikan hiu dari aktivitas perburuan dan penangkapan untuk digunakan sebagai bahan baku sup sirip hiu tampaknya bisa segera direm. Sebab, penelitian terbaru menunjukkan makanan mahal tersebut mengandung racun dan membahayakan kesehatan manusia.

Analisa laboratorium terhadap sirip hiu dari perairan Florida menemukan konsentrasi tinggi senyawa ß-N-methylamino-L-alanin atau BMAA, racun saraf yang berperan dalam penyakit Alzheimer dan Lou Gehrig. Temuan ini memunculkan kewaspadaan baru bahwa mengkonsumsi daging dan tulang rawan hiu dapat memicu risiko pada konsumen.

“Konsentrasi BMAA dalam sampel sangat memprihatinkan. Tidak hanya dalam sup sirip hiu, tetapi juga dalam suplemen makanan dan produk makanan olahan hiu lainnya,” kata peneliti Deborah Mash dari University of Miami Brain Endowment Bank, Amerika Serikat.

Dalam penelitiannya, Mash dan rekan-rekannya menguji tujuh spesies ikan hiu, antara lain hiu blacknose, hiu blacktip, hiu bonnethead, hiu banteng, hiu kepala martil, hiu lemon, dan hiu perawat. Para ilmuwan mengambil sepotong kecil sampel dari sirip masing-masing hiu supaya tidak menyakiti mereka.

Hasil pengolahan sampel menunjukkan konsentrasi BMAA berkisar antara 144 sampai 1.838 nanogram per miligram. Menurut Mash, kadar BMAA pada sampel sirip hiu serupa dengan kadar yang ditemukan pada otak pasien Alzheimer dan penyakit Lou Gehrig.

Penelitian serupa pernah dilakukan sebelumnya, yakni mengaitkan antara konsumsi buah kelelawar yang kaya BMAA di Guam dengan penyakit degeneratif otak. Penelitian itu menunjukkan bahwa mengkonsumsi makanan mengandung senyawa BMAA berdampak buruk terhadap kesehatan manusia.

Para ilmuwan berharap temuan yang diterbitkan dalam jurnal Marine Drugs ini dapat membantu mencegah praktek perburuan dan penangkapan ikan hiu. Akibat praktek ilegal tersebut, sebanyak 70 juta ekor hiu per tahun harus kehilangan siripnya karena dipotong lalu tubuhnya dibuang kembali ke laut untuk mati.

“Penelitian ini tidak hanya penting untuk mencegah manusia terpapar BMAAA lebih jauh. Tapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi konsumsi sup sirip hiu dan produk hiu lainnya, yang akan membantu upaya konservasi satwa laut,” kata Neil Hammerschlag, profesor kelautan dan kebijakan dari University of Miami.Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 3, 2012 by in Sains.

Navigation

%d bloggers like this: